Semenjak saya pindah haluan dari seorang web developer menjadi mobile apps developer, maka satu hal yang pasti saya tinggalkan adalah tools maha hebat bernama Notepad++. Ketika itu, apalah artinya seorang web developmer dengan bahasa PHP tanpa tools notepad++ (minimal text editor notepad). Saya yang hanya sedikit belajar pemrograman mobile yang ketika itu hanya satu pemrograman yang saya tau untuk mobile apps yaitu Java. Belum mengenal java, tiba-tiba harus beralih total ke IDE untuk mobile apps dengan bahasa yang berbeda.

Walaupun saya pernah mempelajari sekilas tentang Java dan beberapa IDE nya, tapi ketika masa-masa sekolah itu saya tidak serius belajarnya (makanya yang serius kalo belajar). Tapi, karena pekerjaan mau tidak mau saya harus memaksa diri saya untuk meninggalkan sementara yang nama nya PHP dan beralih ke Java dan bahasa semisalnya.

Dan meskipun diawal saya beralih saya sudah tau kalo nanti saya bekerja akan menggunakan IDE yang populer yaitu IDE Android Studio, karena dokumentasinya juga cukup banyak. Tapi, saya tetap menaruh harapan lain bahwa ada tools dan bahasa lain yang lebih saya familiar menggunakannya atau tidak. Di pertengahan saya “sudah beralih ke mobile apps”, saya bertanya kepada teman saya yang lebih berpengalaman didalam mobile apps development.

Terus bagaimana kelanjutannya ? Ya, mau tidak mau saya akhirnya menggunakan IDE yg memang pernah saya pelajari yaitu Android Studio.Kenapa menggunakan Android Studio ? Pertama ini disarankan temen saya, karena dia pun menggunakan IDE ini. Ditambah, IDE ini saya sedikit tau.Terlebih, Android Studio link dokumentasinta sudah banyak,jadi bisa mencari tau tutorial-tutorial yg diperlukan dan diharapkan bisa mempermudah pekerjaan saya. Walaupun memang saya akui setelah bekerja beneran menggunakan Android Studio selama beberapa bulan saya belum bisa menggunakannya secara maksimal, masih yang penting bekerja kelar dulu. Hmmmm

Memang jika kita melihat banyaknya dokumentasi, tutorial dan screencast menggunakan Android Studio. IDE ini bisa digunakn dengan sangat hebat, terutama tools didalamnya yg sangat bermanfaat seperti logcat, debug dan mode testing yg berbeda sehingga kita terbantu mencari error code yg tersembunyi. Saya possitive thinking saja butuh waktu dan belajar menggunakannya dan eksplorasi update-an terbaru yg cukup cepat.

Nah, sekarang pembahasannya lompat ke React Native ya.

Saya lupa pertama kali mengenal apa itu React Native. Yang saya ingat adalah status seorang teman saya yg lain, yang dimana dia dulunya seorang web programmer yg berpindah haluan menjadi mobile apps programmer dan dia menggunakan React Native disetiap proyeknya. Tetep, saya tidak mau belajar React Native ketika itu, karena dipikiran saya React Native itu susah meskipun banyak orang yg bilang gampang. Karena, Android Studio saja yg telah banyak orang mengetahuinya, saya masih “susah nafas” ketika menggunakannya. Apalagi pake React, mau gimana entar ?

Didunia pemrograman memang seperti itu bahwa seseorang yg menggunakan suatu teknologi, tools atau IDE dan semisalnya akan selalu membicarakan apa yg mereka gunakan terkait pemrograman, lebih tepatnya membanggakan apa yg dia gunakan sekaligus menunjukan kepada semuanya bahwa dia bisa menggunakannya.

Bisa jadi, karena hal tersebut secara sembunyi-sembunyi mempengaruhi diri saya dari dalam agar mau mempelajari React Native.

Terlebih, ketika saya berkunjung ke salah satu kawan saya yg kebetulan dia bekerja menggunakan React Native. Dengan santai saya bicara kepadanya.

Saya : san, gak susah emang pake react ? Kenapa gak pake Android Studio aja ?
Sani : Memang ketika pake React harus belajar lagi React tapi dengan React saya tidak perlu bekerja dua kali ketika mau buat apps iOS, karena di React ketika kamu membuat untuk Android maka bisa juga di build ke iOS, beda dengan Android Studio yang hanya bisa untuk Android

Tapi serius, ini salah satu yang membuat saya ingin mempelajari React Native. Bikin satu kali tapi bisa bekerja untuk berbagai macam platform (One For All seperti dalam bokuno hero academia hehehe). Selanjutnya, saya mulai sering melihat kawan mengerjakan pekerjaannya dengan React dan terlihat seperti mudah.

Pengaruh saya ingin mempelajari ini juga berasal dari salah satu video pembelajaran React yang di isi oleh Scott Moss.

Dari sini, saya putuskan “Baik, saya akan belajar React”. Karena, ini adalah pelajaran pertama saya belajar menggunakan React Native, akan lebih gampang jika saya belajar melalui video-video dari pada tutorial berupa tulisan.

Hal pertama yang saya pelajari dari React yaitu tentang React itu sendiri, apa itu React, seperti apa React itu, component yang ada di React. Intinya mulai dari pengenalan React native karena tak kenal maka tak bisa bekerja dengan baik atau kenali partner kerja kita. hehehehe

Pembelajaran selanjutnya yaitu mengarah kepada pembelajaran berbasis code, sample code dll.

Apakah susah ? ya, untuk awal mungkin terlihat susah, karena React kebanyakan dokumentasinya menggunakan JavaScript jadi lebih ke menyesuaikan lagi sih. Sejauh ini saya belum bisa menerapkan React pada proyek nyata di pekerjaan saya.

Tapi, jika kamu sudah terbiasa dengan Javascript dan semisalnya, mungkin akan cepat terbiasa.

Insya Allah nanti akan saya sharing tentang proses saya belajar React Native di blog ini.

Yuk tinggalkan komentar di artikel ini agar kita bisa berdiskusi bersama tentang React Native, baik ngobrol soal proses belajarnya atau mengenai tips dan trick React Native.