Sudah ada 5 bulan pandemi melanda negeri kita, sejak pandemi melanda negeri ini banyak terjadi perubahan dalam segala hal bahkan berbagai kebijakan pemerintah sudah “setengah” diterapkan di berbagai aspek.

Kampaye pola hidup sehat mulai lebih gencar lagi dari sebelumnya, semua orang di “paksa” untuk selalu memakan makanan sehat, mencuci tangan setiap kali masuk mall, masjid dan tempat – tempat ramai.

Bahkan pengajian yang biasanya kita harus mendatangi majlis-majlis atau terkadang pergi dari kota ke kota lain hanya untuk menuntut ilmu agama, sekarang harus dilakukan dengan menggunakan zoom, google meeting dan aplikasi streaming lainnya.

Tidak terkecuali dengan proses belajar mengajar antara guru dan murid disekolah yang biasanya anak-anak harus berangkat pagi sekitar pukul 07.00 lalu masuk pukul 8 pagi dan pulang siang (untuk SD) dan sore (untuk sebagian SMP dan SMA).

Kali ini guru dan murid “dipaksa” kembali untuk mengikuti kebijakan pemerintah dalam proses belajar mengajar secara online, ini upaya pemerintah dalam meminimalisir penyebaran covid-19.

Jika berbicara yang berkaitan dengan kata “online” sering di kaitkan dengan “teknologi”, ya ! Online adalah bagian teknologi , tapi seringkali kita membicarakan teknologi yang pasti menguasainya adalah anak muda dan yang paling up-to-date adalah anak muda.

Padahal tidak semua anak muda bisa dan tau, justru yang bisa dan tau adalah yang mau belajar, membaca dan menerima. Artinya jika anak muda itu tidak ada keinginan untuk belajar, anak muda ini juga memiliki kesempatan tidak mengerti teknologi.

Teknologi saat ini bisa dikuasai semua orang, catatan pentinya orang itu mau belajar atau tidak. Berbagai sumber belajar ada banyak, bahkan tidak jarang pemerintah bekerjasama dengan professional untuk mengadakan pelatihan seputar teknologi secara gratis, tinggal kita mau atau tidak.

Saya jadi teringat beberapa tahun lalu kalo tidak salah pada tahun 2015 ketika saya masih aktif kuliah dan masih aktif mengajar di sekolah, ketika itu belum ada pengumuman pandemi covid-19 dari pemerintah.

Bahkan pada tahun 2015 itu hari sabtu masih aktif belajar full dan siswa serta gurunya masih mendatangi sekolah pada pagi hari dan pulang ketika jam sekolah selesai.

Di tahun 2015 itu saya ingat betul ada banyak yang mengadakan pelatihan cara mengajar secara daring (dalam jaringan) untuk guru yang mengajar mata pelajaran non-teknologi atau bagi guru yang tidak memiliki latar belakang teknologi.

Panitia pelatihan dari mulai pihak swasta dan pemerintah yang bekerjasama dengan pihak professional.

Bahkan kalo tidak salah di kurikulum sekolah yang dibuat pemerintah ada mata pelajaran khusus Simulasi Digital (untuk kelas SMA), mata pelajaran ini adalah mata pelajaran yang memberikan pemahaman dan keterampilan baru agar siswa dan gurunya terbiasa dengan belajar secara daring.

Maka dari itu pemerintah gencar mengadakan pelatihan, bahkan tidak jarang mewajibkan sekolah untuk mengutus guru mapel non-teknologi agar mengikuti pelatihannya.

Lagi-lagi guru senior malah menunjuk anak muda untuk datang ke pelatihan itu dengan alasan, “ah saya udah tua, sudah saatnya anak muda yang maju” padahal undangan pelatihan itu dikhususkan untuk guru mapel non-teknologi, saat itu saya termasuk guru mapel yang ada kaitannya dengan teknologi.

Parahnya ada guru “anak muda” semuran saya, dia dapat undangan mengikuti pelatihan simulasi digital dan dia tidak mau datang sambil bilang kepada saya “udah pa eriga aja yang kesana, kan pa eriga pengajar TIK pasti lebih faham”.

Saya bisa dibilang saya akan lebih berpeluang faham tentang materi simulasi digital, karena di tempat saya kuliah saya sudah terbiasa belajar jarak jauh secara online menggunakan E-Learning.

Tujuan pelatihan itu, bukan untuk yang faham agar menjadi lebih faham tapi untuk yang belum faham menjadi faham.

Masalah yang sudah faham tinggal dikembangkan saja secara mandiri dan tinggal mengembangkan ilmu mengajar nya.

Mungkin jika tidak ada batasan jumlah peserta yang diutus setiap sekolah yang ikut pelatihan saat itu, saya pasti akan tetap ikut.

Tapi kebijakan nya minimal harus 1-2 orang. Saya rasa lebih bijak memilih guru “yang sama sekali” belum faham tentang platform-platform untuk mengajar secara daring.

Saya nurut saja ketika itu dan menggantikan beliau ikut pelatihan, di tempat pelatihan saya dikejutkan kembali bahwa disana banyak teman-teman kuliah saya, teman satu jurusan.

Saya bertanya, kok kamu sih yang dateng bukannya ini untuk mapel non-teknologi ? Dia pun balik tanya, loh kamu juga ? Rupanya disekolah mereka pun seperti itu.

Saya sih bersyukur ketika itu, karena dapat makan siang gratis yang dimana bagi mahasiswa ketika itu adalah perbaikan gizi.

Saat ini saya menyoroti semua guru “dipaksa” untuk belajar bagaimana menggunakan perangkat teknologi untuk digunakan belajar secara online.

Rekan guru yang dulu saya gantikan untuk pelatihan daring menghubungi saya dan bertanya tentang bagaimana cara mengajar secara daring plus dengan bagaimana cara menggunakan platform untuk mengajar secara daring.

Padahal sebagian platform yang sekarang banyak digunakan untuk belajar secara daring ditengah pandemi ini pernah dibahas di pelatihan beberapa tahun lalu.

Minimal jika pernah mengikuti pelatihan, sekalipun dengan layanan daring nya berbeda. Tapi setidaknya sudah punya gambaran bagaimana belajar mengajar secara online, gambaran ini sudah cukup untuk modal survive mengajar ditengah pandemi.

Memang tidak ada kata terlambat buat belajar setelah maupun sebelum pandemi, tapi apakah harus ada pandemi dulu baru mau belajar ?

Jika ada kesempatan untuk belajar lebih awal mengapa harus menunggu nanti ? Toh ilmu tidak akan pernah sia-sia.