Menarik untuk menulis artikel hari ini dengan tema belajar, awalnya ini adalah sebuah challange disalah satu komunitas blogger yang memberikan tantangan kepada membernya untuk menulis tentang tema yang disediakan.

Tapi postingan ini bukan hanya dikhususkan untuk sekedar mengikuti challange, tapi untuk berbagi cerita dan mengingatkan kepada diri sendiri.

Saya baru terfikirkan menulis hal ini, biasanya saya berbicara kepada diri sendiri apakah saya bisa melakukannya ? Tapi, sepertinya saya bisa ! saya memulainya dari mana ya ?

Dimulai dari saya mengaudit setiap aktivitas saya sehari-hari terutama dalam menggunakan gadget atau perangkat mobile lainnya. Ditambah saya mendapatkan salah satu nasehat dari seorang ustadz seperti “Salah satu kesempurnaan iman seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat”. Saya mulai berfikir dan merecord semua aktivitas saya biasanya seperti apa.

Bermula dari saya seringkali mengecek handphone atau media sosial, karena takut ketinggalan informasi. Scrolling medsos sampai-sampai merubah suasana hati yang tadinya tenang malah jadi greget, ingin ikut nimbrung berkomentar dan jatuhnya ghibah. Padahal tau ghibah itu tidak boleh. Apakah anda pernah merasakannya ? Atau hanya sekedar cek & ricek medsos setiap menitnya ? Ternyata fenomena ini terjadi juga pada teman-teman saya yang lain.

Padahal jika kita mengaudit aktivitas kita sehari-hari dan kita catat waktunya, setiap waktu kita habiskan untuk apa ? Alih-alih mendapatkan informasi yang bermanfaat, yang saya rasakan justru kebanyakan informasi yang kurang bermanfaat. Seperti apa ? ya misalnya seperti melihat status galau, status permasalahan rumah tangganya, status yang seolah-olah nyindir kita padahal si pembuat status mungkin tidak ada maksud nyindir, melihat aurat orang lain dan sampai akhirnya melihat online shop sampe tertarik ingin membelinya padahal tidak dibutuhkan (kalo saya sih tidak, ini kata istri saya. hehehe…) Ya seperti itulah. Menurut anda apakah itu penting ? Silahkan beri tanggapannya di kolom komentar.

Saya menyakini bahwa ketika kita sedikit mengurangi aktivitas kita dalam cek & ricek media sosial, perasaan akan lebih tenang, tidak kepo dan tidak sibuk dengan urusan orang lain. Saya berbicara seperti ini bukan tanpa alasan, saya pernah diet media sosial bahkan sampai tidak bermain medsos sama sekali selama beberapa hari. Lalu, apa yang saya rasakan ? Kebisingan di medsos, merasa tersindir dengan perkataan orang dan perasaan ingin ribut dengan orang itu sirna, kehidupan menjadi lebih damai. Santai bro. Tapi ketika saya kembali seperti dulu, kepoin medsos dan scrolling sampai berjam-jam perasaan tidak enak muncul kembali.

Ya, di satu sisi saya masih membutuhkan media sosial untuk bekerja karena saya diamanahi mengelola akun official perusahaan, berbagi informasi, personal branding dan membranding MGI TV. Lantas bagaimana ? untuk saat ini saya belajar diet media sosial dengan cara membatasi saya nongkrong di media sosial, scrolling yang tidak jelas, tidak menjadikan media sosial untuk menunggu sesuatu atau mengisi waktu luang dan menentukan batasan sampai berapa lama saya nongkrong di media sosial. Untuk menghilangkan kebiasaan buruk kita harus pelan-pelan secara bertahap dan kuatkan tekad. Sebagai motivasi mungkin bisa memberikan reward untuk diri sendiri ketika bisa berkomitmen.