Belum lama ini saya mendengar cerita salah satu teman, bahwa dia dan juga istrinya pernah tersinggung oleh kawan dia yang lain. Agar mempermudah memahami cerita ini saya berikan nama subjeknya “sepasang kekasih”.

Cerita berawal dari teman dari sepasang kekasih ini berkunjung ke rumahnya, seperti hubungan pertemanan yang lain biasanya akan ada obrolan atau semacam tanggapan ketika melihat isi rumah dan suasana dirumahnya. Jika kita melihat di film-film biasanya akan muncul berbagai macam pujian, seperti rumahnya besar, rapih, bersih dan lain sebagainya sesuai dengan keadaan disana.

Sama ketika teman dari sepasang kekasih ini berkunjung, mereka memberikan tanggapan sesuai keadaan seperti di film-film tersebut dan pemilik rumahnya juga memberikan tanggapan standar, seperti “maaf rumahnya berantakan” atau semisalnya.

Tapi itu di film, jika dalam kehidupan nyata terkadang tidak seperti itu. Bahkan yang dialami sepasang kekasih ini justru malah sebaliknya, mereka mengalami sesuatu yang menurut mereka menyakitkan dan merendahkan mereka.

Setahu saya setelah mendengar ceritanya, tanggapan dari temannya ini adalah rasa jijik dan berekspresi seolah-olah ingin berkata “kok mau sih ngerjain kayak gituan kan cape” bahkan saya mendengar cerita temannya ini memang berkata seperti itu.

Di dalam cerita ini juga sepasang kekasih ini mereka punya bisnis konveksi, ya seputar jahit-menjahit gitu. Jadi menurut temannya pekerjaan jahit-menjahit ini adalah pekerjaan yang melelahkan dan mereka beranggapan kok mau sih istrinya bekerja di bidang gituan atau lebih tepatnya usaha gituan.

Disini perasaan sepasang kekasih ini terusik, hanya saja tidak menunjukan ketidaksukaannya sampai pada akhirnya sepasang kekasih ini jaga jarak bahkan sama sekali tidak mau kumpul kembali dengan teman-temannya terutama dengan teman dia yang pernah berkata seperti itu. Bisa dibilang sakit hati karena omongan temannya itu.

Saya juga pernah mengalami hal ini, bukan menjadi orang yang sakit hatinya tapi yang membuat orang sakit hati gara-gara omongan saya. Intinya yang saya pelajari disini berfikir sebelum berbicara itu sangat penting. Kita ga bisa mengatur perasaan orang lain, kita ga bisa nyuruh orang lain untuk tidak tersinggung dengan kita, kita ga bisa memaksa orang lain menganggap bahwa kita sedang bercanda.

Tapi, yang bisa kita lakukan adalah menjaga mulut kita agar tidak sembarangan berbicara dan menggunakan pikiran kita untuk memikirkan perkataan yang baik dan tidak menyinggung orang lain. Karena, terkadang maksud kita bercanda tapi salah mengerti yang kita ajak bercanda.

Kakek saya pernah berkata “Seseorang itu biasanya akan dinilai oleh orang lain itu dari mulutnya”.

Intinya pikirkan dulu sebelum berbicara dan rasakan apakah ketika saya mengatakan ini dan itu apakah saya akan tersinggung atau tidak. Karena apa yang bikin kita tersinggung kemungkinan orang lain juga akan merasakan hal yang sama. Jadi kata yang tepat adalah “Berfikir sebelum berbicara”.